Teacher and Learner ~ Teaching is travelling

Menulis Semudah Ceplok Telur

12 komentar

       Menulis itu sangat mudah. Semudah kita membuat ceplok telur. Tuk Byaarr… telur yang tadinya bulat, bisa langsung dihidangkan di meja makan. Tanpa harus ribet memasaknya. Jangan pernah berpikir tulisan kita jelek atau lainnya, hal inilah yang akan membuat kita tidak bisa menulis. Jika pikiran buntu tetap saja menulis. Tulis apa saja. Tulis..tulis dan tulis. Nanti kesempurnaan akan mengikuti. Menulis itu bekerja untuk keabadian. “Jika kau bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah” – Imam Ghozali.  Itulah salah satu quote yang menarik dan patut kita renungkan, khusususnya yang bercita-cita jadi penulis. Kalau kita ingin dikenal dan dikenang oleh orang banyak maka hal yang paling tepat adalah dengan meninggalkan karya, salah satunya berupa tulisan atau buku. Atau sekadar untuk catatan pribadi semacam blog atau lainnya. 

       Mengapa kita harus menulis? Apakah menulis itu penting untuk kita? Jawabannya, iya. Landasan mengapa kita harus menulis menurut Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekalipun di tembok”. Imam Syafi’i juga pernah bertutur, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja”. Disini, ilmu diibaratkan seperti hewan buruan apabila tidak diikat akan terlepas, begitu pula ilmu apabila tidak ditulis maka akan hilang atau tidak ingat dikarenakan daya manusia yang terbatas. Sebagai umat islam, kita perlu membiasakan diri untuk belajar menulis. Karena sahabat Rasulullah SAW juga menuliskan Al-Qur’an dan Al-Hadits kemudian dibukukan. Seandainya saja Khalifah Utsman bin Affan tidak mengumpulkan para penghafal Al-Qur’an untuk berkumpul dan menulis Al-Qur’an sampai adanya mushaf Al-Qur’an yang sekarang ini. Coba bayangkan kalau Al-Qu’an tidak pernah ditulis, bisa saja hilang ditelan masa dan akan terjadi distorsi dalam kitab suci umat islam ini. Atas dasar itulah menuliskan ilmu yang kita dapatkan itu sangat penting sekali.

      Salah satu cara menjadi penulis hebat adalah dengan bergabung dalam komunitas menulis. Dalam komunitas tersebut, kita akan mendapatkan banyak teman yang sama-sama hobi menulis dan saling memberikan inspirasi serta motivasi. Ada kutipan yang sangat menarik, “Tebarkan manfaat di setiap helaan nafas meski hanya dari sebuah tulisan”. Menulis tak akan berdampak apa-apa jika tidak memiliki komitmen dalam diri untuk berlatih menulis setiap hari. Menulis yang paling mudah yakni menulis pengalaman sendiri. Menurut JK Rowling, “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”. Oleh karena itu, mari menulis karena menulis semudah ceplok telur. 

Salam Literasi,

Novatama Adi Nugraha


Referensi :

Seminar Menulis bersama Rumah Produktif Indonesia (RPI) NTT

Pemateri : Bunda Lilis Sutikno (Guru Inspirasi NTT)

Sumber gambar :

https://nasihatsahabat.com/ikatlah-ilmu-dengan-cara-menulisnya/

12 komentar :

  1. Alhamdulillah, bunda senang bacanya. Terus semangat dan terus memberikan inspirasi kepada dunia.

    BalasHapus
  2. Terima kasih Bunda,atas semangat dan ilmunya..

    BalasHapus
  3. Terima Kasih Kak Aam.. ini masih belajar menulis dan ngeblog

    BalasHapus
  4. Masyaallah bagus sekali artikelnya Kak Nova
    Talitha - Peserta Penulis Surabaya

    BalasHapus
  5. Terima kasih, Talitha.. Semangat buat belajar menulis

    BalasHapus
  6. Kerenn bangett kakk novaa.. Sangat menginspirasi kakk
    Chiara - peserta penulis Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Chiaa.. kita sama" belajar menulis. Semangat

      Hapus
  7. Blog nya sangat keren kakk… selalu memberi inspirasii..πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ» Rayya - Peserta Penulis Surabaya

    BalasHapus
  8. Blog nya keren banget kak Novaa..
    Nasywa - Peserta Penulis Surabaya

    BalasHapus