Terima Kasih Guruku

Ku tuliskan sepucuk untaian kalimat untuk Bapak dan Ibu Guru dimana pun mereka berada saat ini. Rangkaian doa selalu menggema di hati untuk setiap peluh yang mereka berikan padaku. Sebanyak apapun kalimat yang terangkai hari ini, tentu tidak akan mampu membalas banyaknya dedikasi yang telah mereka berikan. Guru, bukan sekedar penyebutan profesi dengan dua konsonan dan dua huruf vokal. Bagiku guru merupakan sosok yang sangat berharga dalam hidup, baik itu guru dalam pendidikan formal maupun non formal.
Sedikit menelisik ke belakang dalam kehidupan, bahwa sehari-sehari aku telah banyak dididik oleh para guru. Mulai dari saat mengeyam pendikan usia dini sampai ke perguruan tinggi. Bahkan pasca dari perguruan tinggi pun masih mendapat berbagai ilmu pengetahuan dari guru. Hal penting yang harus kita ketahui dan ingat bahwa guru bukan hanya mereka yang memiliki gelar sarjana pendidikan. Terlalu sempit jika masih berkutat dengan pikiran bahwa guru adalah orang yang mempunyai gelar tersebut.
Mari kita ingat filosofi Ki Hajar Dewantara, seorang pendidik dan pendiri Taman Siswa yang berbunyi “Setiap Orang Menjadi Guru, Setiap Rumah Menjadi Sekolah”. Kutipan filosofi tersebut mengisyaratkan bahwa setiap orang bisa dan berhak menjadi guru bagi siapapun dan setiap rumah dapat menjadi sekolah untuk mendapatkan pendidikan. Bagiku sekolah pertama adalah di rumah terkhusus ibu sebagai gurunya, karena sejatinya ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tentunya rasa terima kasih mendalam ku sampaikan kepada guru yang terdekat yaitu kedua orang tua yang telah mendidik sejak dini dan telah berupaya memberikan pendidikan yang terbaik hingga ke perguruan tinggi.
Selain berterima kasih kepada orang tua sebagi guru, aku juga sangat bersyukur karena selama mengenyam pendidikan formal maupun non formal telah mendapatkan guru yang terbaik. Untuk pertama kalinya pendidikan usia dini ku dapatkan dimana pada saat itu sedang aktif menikmati masa kanak-kanak. Dengan kesabaran yang luar biasa para guru saat itu membimbing dan menuntunku untuk mulai belajar sambil bermain. Kesabaran, ketekunan dari bapak ibu guru ku dapatkan dari masa ke masa hingga berhasil menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. Mahasiswa yang sering di bilang “maha” nya siswa atau dengan kata lain di artikan sebagai puncak tertinggi status siswa atau tingkatan siswa yang paling tinggi juga harus terus belajar kepada guru.
![]() |
| Bersama Bapak Dr. Ismail, M.Pd. (Dosen Pembimbing Skripsi) |
Semakin tinggi mengenyam pendidikan dan mendapat berbagai ilmu pengetahuan dari para guru telah mengubah pola pikirku. Aku berpikir bahwa ilmu pengetahuan sangat luas dan tidak akan ada habisnya untuk di pelajari. Mungkin bisa saja aku belajar dari sosial media tentang berbagai macam disiplin ilmu tanpa di dampingi guru, namun kuncinya bukan hanya disitu karena bagiku guru juga berperan mengajarkan akhlak yang baik kepada siswa. Aku pun sangat merasakan bagaimana guruku mengajarkan tentang tata krama, disiplin, kejujuran dan nilai-nilai kehidupan yang tentunya belum tentu kita dapat dari sosial media. Pada suatu waktu pernah ku dengan cerita dari guruku bahwa menjadi guru adalah panggilan jiwa. Bagaimana tidak, guru memiliki tangung jawab moril atas profesinya. Ia bukan hanya mengajarkan disiplin ilmu pengetahuan namun ia juga harus memperhatikan sisi akhlak dari anak didiknya.
Guruku, banyak sudah yang kau korbankan untuk tugas mulia ini. Mencerdaskan anak bangsa, menanamkan budi pekerti luhur, memupuk sikap displin serta mengajarkan nilai kehidupan dan disiplin ilmu yang tiada engkau mengenal lelah. Setiap peluh mu dalam bertugas adalah ruh dalam diriku, setiap tawamu di sela tugas adalan nyawa dalam jiwaku, dan setiap nasihatmu adalah semangat dalam kaki ini melangkah. Maaf jika dengan kenakalanku terkadang membuatmu marah, dengan sikapku yang tidak disiplin membuatmu lelah. Namun sungguh Tuhan selalu membersamai mu, guruku. Tuhan anugerahkan rasa sabar luar biasa, rasa tiada mengenal lelah, tiada bosan untuk kembali menatapku, kembali mengajar dan memberikan ilmu yang bermanfaat untuk diriku, dan yang termanis adalah selalu kau sampaikan cintamu lewat senyuman ramah.
Kepada guruku, engkau disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Ya benar, kaulah pahlawan tanpa tanda jasa, karena jasa-jasamu kau titipkan di setiap pundak siswamu, kau titipkan di pundakku. Setiap yang gugur di medan perang untuk membela bangsa mendapat sebutan pahlawan, namun kau tidak harus gugur untuk mendapat sebutan pahlawan karena bagiku kau lah pahlawan yang memerangi kebodohan, kau pahlawan untuk membuka cakrawala dunia menumpas kerdilnya pemikiran, kau pahlawan untuk meluluhkan kerasnya akhlak yang tidak lurus, dan kau tak akan pernah gugur karena ilmu yang kau ajarkan akan terus mengalir dan menghidupi kehidupan. Daya pikir yang terbatas kau kikis lewat kertas berisi pesan mutiara tak terbatas. Setiap kata darimu adalah doa, setiap cerita darimu sarat makna. Mengenalmu sebagai pendidik adalah karunia yang luar biasa, dan mengenangmu dalam hidupku adalah kebaikan tak terhingga.
Guruku, izinkan aku terus meggemakan namamu dalam sanubariku, menyampaikan rasa terima kasihku melalui doa agar Tuhan senantiasa menjagamu. Tak akan pernah cukup aku mengulas tentang pengabdianmu, bahkan bait kata ku pun seolah tak sanggup menceritakan pengorbananmu. Entah harus memulai dari mana untuk menyampaikan rasa terima kasihku padamu, dan harus di mana aku mengkahirinya. Rasanya tiada akhir untuk setiap pengorbananmu karena ilmu yang kau ajarkan telah membawa diriku pada kehidupan yang penuh berkah saat itu.
Teruntuk setiap guruku yang penuh kehangatan dalam mendedikasikan dirinya, terima kasih telah menjadi perantara Tuhan mencerdaskanku. Engkaulah tangan Tuhan di dunia untuk memberikan sejuta manfaat bagi insan yang buta keilmuan. Kau ajarkan aku huruf menjadi kata, hingga mampu menjadi kalimat kemudian menjadi indahnya cerita kehidupan. Jika suatu saat nanti aku datang dengan kehausan ilmu pengetahuan maka jangan lah bosan untuk memberiku ilmu sebagai pelepas dahaga ku. Jika suatu saat nanti kau mendapati diriku menjadi apatis maka ku harap kau berikan teguran manis sebagai pengingat diriku.
Guru, terima kasih atas warisan yang tak ternilai harganya yaitu ilmu pengetahuan. Saat ini, esok dan nanti engkau tetaplah guruku, pelita hidupku dan aku akan terus mengingat dan mengenangmu dalam kebaikan. “Berjuanglah dan jangan setengah-setengah” kalimat itu akan selalu melekat dalam benakku bersama kedalaman ilmu. #NN
![]() |
| Bersama Bapak Drs Zainal Abidin, M.Pd., Ph.D (Dosen PPG Unisma) |
Antologi Buku "Writing is My Passion"

Alhamdulillah, akhirnya buku antologi kedua sudah terbit. Senang bisa menjadi bagian dari tim guru penulis di dalamnya. Sesungguhnya banyak diantara kita yang bermimpi ingin menjadi guru penulis. Namun seiring berjalannya waktu, terkadang kita sering banyak alasan sehingga tidak dapat mewujudkan impian tersebut. Sebaliknya mereka yang berkomitmen, bersungguh-sungguh dan memiliki potensi diri untuk menulis, merekalah yang dapat mewujudkannya. Menulis merupakan keterampilan yang harus dilatih dan butuh proses. Seorang penulis profesional adalah seorang penulis amatir yang tidak pernah berhenti menulis. Mari kita belajar menulis, karena tulisan yang menurut kita biasa, bisa dianggap luar biasa oleh orang lain.

Buku ini digagas secara spontan usai mengikuti kelas belajar menulis Om Jay dan PGRI, yang dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2021 di gelombang 19 dan 20. Dra Sri Sugiastuti, M.Pd atau akrab disapa Bu Kanjeng mengangkat tema "Menjadikan Menulis sebagai Passion". Tema inilah yang mengilhami terbitnya buku Antologi yang sedang anda baca.
Pengalaman akan hilang jika tidak dituliskan. Alasan itu sebagai pemicu Bu Kanjeng mengajak para penulis hebat untuk berkontribusi menorehkan hasil tulisan terbaiknya dan dikemas menjadi buku antologi yang menarik untuk dibaca dengan keyakinan bahwa semua manusia diberi potensi untuk membuktikannya. "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, biarkan tulisanmu menemui takdirnya."- Bu Kanjeng.
Nah, 30 penulis di dalam buku ini mengabadikan karya tulisannya. Buku ini bagian dari praktik literasi setelah mereka berhasil menjadi pemenang. Penulis mampu mengalahkan rasa takut dan malas yang ada di dalam dirinya. Tentunya buku ini akan menjadi pelecut para penulis pemula, sekaligus para pegiat literasi Nusantara. Buku ini juga sangat cocok untuk mengisi perpustakaan sebagai referensi dan sangat bagus untuk hadiah para pemimpi yang ingin menjadi penulis.
Salam Literasi!
Menulis Perlu Pembiasaan


Menulis Semudah Ceplok Telur

Menulis itu sangat mudah. Semudah kita membuat ceplok telur. Tuk Byaarr… telur yang tadinya bulat, bisa langsung dihidangkan di meja makan. Tanpa harus ribet memasaknya. Jangan pernah berpikir tulisan kita jelek atau lainnya, hal inilah yang akan membuat kita tidak bisa menulis. Jika pikiran buntu tetap saja menulis. Tulis apa saja. Tulis..tulis dan tulis. Nanti kesempurnaan akan mengikuti. Menulis itu bekerja untuk keabadian. “Jika kau bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah” – Imam Ghozali. Itulah salah satu quote yang menarik dan patut kita renungkan, khusususnya yang bercita-cita jadi penulis. Kalau kita ingin dikenal dan dikenang oleh orang banyak maka hal yang paling tepat adalah dengan meninggalkan karya, salah satunya berupa tulisan atau buku. Atau sekadar untuk catatan pribadi semacam blog atau lainnya.
Mengapa kita harus menulis? Apakah menulis itu penting untuk kita? Jawabannya, iya. Landasan mengapa kita harus menulis menurut Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekalipun di tembok”. Imam Syafi’i juga pernah bertutur, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja”. Disini, ilmu diibaratkan seperti hewan buruan apabila tidak diikat akan terlepas, begitu pula ilmu apabila tidak ditulis maka akan hilang atau tidak ingat dikarenakan daya manusia yang terbatas. Sebagai umat islam, kita perlu membiasakan diri untuk belajar menulis. Karena sahabat Rasulullah SAW juga menuliskan Al-Qur’an dan Al-Hadits kemudian dibukukan. Seandainya saja Khalifah Utsman bin Affan tidak mengumpulkan para penghafal Al-Qur’an untuk berkumpul dan menulis Al-Qur’an sampai adanya mushaf Al-Qur’an yang sekarang ini. Coba bayangkan kalau Al-Qu’an tidak pernah ditulis, bisa saja hilang ditelan masa dan akan terjadi distorsi dalam kitab suci umat islam ini. Atas dasar itulah menuliskan ilmu yang kita dapatkan itu sangat penting sekali.
Salah satu cara menjadi penulis hebat adalah dengan bergabung dalam komunitas menulis. Dalam komunitas tersebut, kita akan mendapatkan banyak teman yang sama-sama hobi menulis dan saling memberikan inspirasi serta motivasi. Ada kutipan yang sangat menarik, “Tebarkan manfaat di setiap helaan nafas meski hanya dari sebuah tulisan”. Menulis tak akan berdampak apa-apa jika tidak memiliki komitmen dalam diri untuk berlatih menulis setiap hari. Menulis yang paling mudah yakni menulis pengalaman sendiri. Menurut JK Rowling, “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”. Oleh karena itu, mari menulis karena menulis semudah ceplok telur.
Salam Literasi,
Novatama Adi Nugraha
Referensi :
Seminar Menulis bersama Rumah Produktif Indonesia (RPI) NTT
Pemateri : Bunda Lilis Sutikno (Guru Inspirasi NTT)
Sumber gambar :
https://nasihatsahabat.com/ikatlah-ilmu-dengan-cara-menulisnya/
Kelas "Belajar Menulis Buku ber-ISBN"

Menulis adalah bekerja untuk keabadian. “Teruslah menulis, teruslah membaca, dan teruslah berkarya” (Bunda Lilis Sutikno, Guru Inspirasi NTT). Alhamdulillah, Allah SWT menghadiahkan 1 buah buku antologi bersama guru-guru inspirasi dari pelosok negeri. Buku ini sangat luar biasa, dimana dalam karya buku ini ada 3 (tiga) Profesor yang mendukung terbitnya buku ini, yakni sebagai berikut :
- Penulis Kata Pengantar : Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. (Sekretaris Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud)
- Penulis Kata Sambutan Buku : Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, MSME (Guru Besar Universitas Sumatra Utara)
- Penulis Endorsment Buku : Prof. Pujiati, M.Soc, Sc., Ph.D (Guru Besar Universitas Sumatra Utara
Sinopsis Buku “Kisah WIT 2020 - Memberi Inspirasi Untuk Negeri”
“Musuh terbesar ilmu adalah ilusi bahwa kita berilmu” (Dewi Sandra, Brand Ambassador Wardah), merupakan kalimat yang memotivasi para guru hebat penulis buku ini untuk terus mengembangkan diri dan berinovasi. Mereka sadar bahwa guru yang dapat digugu dan ditiru adala guru yang tidak pernah berhenti untuk belajar.
Buku ini sangat istimewa karena memuat berbagai ilmu juga pengalaman dan karya nyata para penulisnya ketika mengikuti program “Wardah Inspiring Teacher 2020” yang diselenggarakan oleh PT Paragon Technology and Innovation. Ilmu, pengalaman dan karya yang mereka tuangkan di dalam buku ini sangat sempurna, sehingga layaklah mereka disebut guru inspiratif. Hal ini sangat relevan dengan tuntutan pendidikan di negara kita saat ini. Karena hanya dengan berada pada posisi sebagai inspiratorlah, seorang guru akan mampu membangun inovasi, kemandirian, dan pengembangan kreativitas setiap peserta didiknya.
Apa saja ilmu, pengalaman, dan karya nyata para guru inspiratif tersebut? Segera baca buku ini sampai tuntas, maka Anda akan mendapatkan banyak inspirasi yang akan menggugah dan mendorong Anda untuk tetap semangat dalam belajar dan mengajar.

- Buku Antologi "Kisah WIT 2020 ”
- ISBN : 978-602-457-762-9
- Tebal : ± 225 hal
- Penerbit : Oase Pustaka
- Cetakan Pertama : Maret 2021

