Matematika dan Strategi Perang Rasulullah
Matematika itu sesungguhnya disebut juga ilmu islam. Matematika tak terpisahkan dari ilmu-ilmu syariat yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadis. Misalnya, menghitung waris itu pakai ilmu matematika, ilmu falak untuk mengetahui kalender hijriah yang terkait dengan ibadah sholat dan puasa, pembagian zakat juga menggunakan ilmu matematika. Bahkan, salah satu faktor kemenangan Rasulullah Saw. dalam Perang Badar juga karena ketepatan Rasulullah Saw dalam menggunakan ilmu matematika. Menurut Sun Tzu dalam karya fenomenalnya The Art of War, salah satu faktor penting meraih kemenangan dalam sebuah peperangan adalah mengetahui kekuatan diri sendiri dan mengetahui kekuatan lawan.
Rasulullah Saw. bersabda, ‘Kalau begitu, mereka antara 900 hingga 1.000 orang.” Lalu, beliau bertanya lagi, “Siapa saja diantara mereka yang merupakan pemuka Quraisy?” Keduanya menjawab, “Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah Abu Al-Bukhturi bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuwailid, Al-Harits bin Amir, Thaimah bin Adi, An-Nadlr bin Al-Harits Zam’ah bin Al-Aswad, Abu Jahal bin Hisyam, dan Umayyah bin Khalaf dan nama-nama lain yang disebut keduanya.
Rasulullah Saw. lalu menghadap ke khalayak pasukan Muslim, “Inilah (penghuni) Mekah telah melemparkan kepada kalian kekayaan”. Dalam cerita yang dideskripsikan oleh Ibnu Hisyam tersebut, tampak sekali Rasululah Saw. mengetahui secara presisi kondisi dan kekuatan musuh. Jarak antara pasukan kaum Muslim dan pasukan musuh, bisa diketahui oleh Rasulullah dengan detail melalui keterangan salah seorang budak, “Mereka ada dibalik bukit pasir yang engkau lihat di pinggiran paling jauh itu.” Jarak adalah hitungan matematika. Kekuatan musuh juga sangat detail dikorek oleh Rasulullah Saw. Ketika dua budak itu menjawab, “Pasukan Quraisy menyembelih unta setiap hari. Kadang sembilan ekor, kadang-kadang sepuluh ekor.” Maka Rasulullah Saw. langsung tahu jumlah mereka “Kalau begitu, mereka antara 900 hingga 1.000 orang.” Sebab satu ekor unta bisa untuk dimakan kira-kira seratus orang. Lalu, beliau menanyakan jumlah pemuka Quraisy dan disebutlah nama-nama. Itu kelihatannya sekedar nama. Namun, hal itu terkait juga dengan hitungan matematis kekuatan masing-masing orang pemilik nama. Hal itu akan sangat menentukan ketika nanti terjadi duel satu lawan satu. Siapa lawan siapa?
Dan, ketika duel satu lawan satu, majulah dari kalangan pasukan Quraisy tiga orang ahli perang mereka; Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah (keduanya bersaudara) dan Al-Walid bin Utbah. Mereka bertiga ingin berhadapan dengan para sahabat nabi dari kalangan Muhajir. Rasulullah Saw. mengirim tiga orang kesatria yang akan mengimbangi kekuatan dan keahlian keduanya. Itu tak luput dari hitungan matematika. Jam terbang memainkan pedang, kekuatan sabetan pedang, kecepatan sabetan pedang, kelincahan gerak, semuanya adalah ukuran matematika. Rasulullah Saw. tidak akan menghadapkan sahabat beliau yang kurang lincah bermain pedang menghadapi jawara ahli pedang dari kaum Quraisy. Yang lebih tinggi hitungan jam terbangnya dalam perang akan beliau tandingi dengan kesatria yang memiliki jam terbang tidak kalah. Jam terbang adalah juga hitungan matematika.
Maka Rasulullah mengirimkan Ubaidah, Hamzah, dan Ali. Ubaidah yang agak tua berduel dengan Utbah yang juga tua. Hamzah menghadapi Rabi’ah dan Ali menghadapi Al-Walid. Hamzah dan Ali tidak membiarkan lawan lawan mereka sama sekali, dalam satu dua kali terjang Rabi’ah dan Al-Walid terkapar. Sementar Ubaidah dan Utbah sama-sama memberi satu tikaman. Hamzah dan Ali lalu membantu membereskan Utbah. Dalam duel satu lawan satu, kesatria kaum Muslimin menang gemilang.
Itu sekadar satu contoh bahwa ilmu matematika bahkan sangat berguna untuk memenangkan perang terpenting dalam sejarah peradaban islam, yaitu Perang Badar. Tentu saja di atas segalanya, kemenangan adalah karena pertolongan Allah SWT.
Referensi :Susanto, Hadi. 2015. Tuhan Pasti Ahli Matematika. Bandung-Mizan
Referensi Gambar :
https://muslimobsession.com/air-mata-rasulullah-saat-malam-perang-badar/
Tidak ada komentar :
Posting Komentar