Mengenal Matematika Lebih Dekat

Matematika itu sulit! Matematika itu tidak penting! Demikianlah pendapat yang sering kita dengar dari siswa terhadap matematika. Sebagian besar siswa menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan. Karena dianggap sulit, matematika sudah menjadi hantu di kelas-kelas bahkan sebelum pelajaran pertama dimulai. Ada candaan kalau MATEMATIKA itu MAkin TEkun MAkin TIdak KAruan pusingnya. Beberapa pendapat di atas adalah persepsi yang salah. Bukankah 1 + 1 = 2 selamanya? Mudah bukan, dimana letak sulitnya. Pelajaran sekolah dasar akan sangat mudah jika dikerjakan oleh siswa sekolah menengah pertama atau atas. Ketika siswa sudah menemukan keasyikan belajar matematika, maka matematika menjadi pelajaran yang mudah.
Matematika merupakan himpunan pengetahuan dan temuan manusia, yang diperoleh dengan metode yang solid, disepakati oleh para pakar dalam bidangnya masing-masing dan telah banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika sekarang berkembang sebagai ilmu atau sistem pengetahuan. Berawal dari geometri dan aritmetika, cabang-cabang matematika lainnya, seperti aljabar, kalkulus, dan statistika pun lahir. Matematika disebut ratunya ilmu pengetahuan (The Queen of Science), karena matematika menjadi pembuka jalan untuk banyak penemuan dalam bidang lainnya.
Mengingat betapa pentingnya matematika, karena semua bidang membutuhkan matematika dalam penyelesainnya. Matematika banyak digunakan dalam berbagai bidang disiplin lain, misalnya fisika, kimia, biologi, teknik, komputer, industri, ekonomi, kedokteran, dan pertanian. Untuk itulah mengapa matematika diajarkan sejak awal kita sekolah. Untuk tingkat taman kanak-kanak, siswa diajarkan mengenal bilangan yang sangat dasar yaitu, bilangan asli, dan belajar mengurutkan bilangan tersebut. Ini bertujuan agar di sekolah dasar siswa bisa menghitung bilangan tersebut. Untuk tingkat sekolah dasar, siswa diharapkan bisa menghitung dengan berbagai macam operasi bilangan seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Lalu siswa dikenalkan dengan soal cerita sederhana dan membuatnya ke dalam kalimat matematika kemudian menyelesaikannya. Ini bertujuan untuk melatih nalar kita dalam menghadapi masalah sehari-hari, seperti menghitung kembalian saat kita jajan di sekolah atau di rumah. Saat di sekolah menengah pertama dan atas, siswa dikenalkan dengan matematika yang cukup kompleks dan diharapkan bisa mencari solusi dari permasalahan tersebut. Apakah kita sudah melalui proses bermatematika dengan benar? Jika benar, kita bisa mengikuti setiap materi yang kita terima dengan baik. Jika tidak, kita selalu kesulitan dengan pelajaran ini dan bertanya kenapa kita harus belajar materi yang sulit ini?
Belajar matematika itu seperti bermain game. Dalam game pastilah terdapat aturan-aturan yang harus diikuti, begitu pula matematika memiliki aturan-aturan dasar yang disebut aksioma. Bermain game tentunya menyenangkan dan penuh dengan tantangan. Semakin tinggi levelnya, semakin sulit permainannya. Begitu pula dengan matematika, soal matematika tingkat SMA akan lebih sulit dibandingkan dengan soal matematika tingkat SMP atau SD. Kita merasa puas jika mampu menyelesaikan suatu game, begitu pula dengan mengerjakan soal matematika. Ada kepuasan jika kita mampu mengerjakan soal matematika. Apalagi jika soal tersebut susah, pasti kepuasan akan berlipat ganda.
Tahukah kita kenapa seorang penulis bisa menulis buku yang sukses? Atau seseorang bisa menjadi pengacara yang sukses? Atau seorang dokter yang bisa menyembuhkan pasien yang sakit? Ketiga profesi tersebut mungkin tidak membutuhkan matematika saat di bangku kuliah, tapi apakah matematika jadi tidak penting bagi mereka? Kalau kita telurusi lebih jauh, sebenarnya mereka menggunakan konsep bermatematika yang benar. Seorang penulis bisa menyusun sebuah kata-kata dan kalimat-kalimat menjadi tulisan yang bagus itu membutuhkan strategi; begitu juga seorang pengacara bisa memenangkan sebuah kasus hukum yang dia tangani membutuhkan strategi. Strategi tersebut mereka peroleh dari penalaran saat mereka mencoba menyelesaikan masalah dalam belajar matematika. Begitu juga ketika seorang dokter dihadapkan pada pasien yang sekarat dan membutuhkan pertolongan secepatnya, matematika akan menuntun dokter tersebut mengambil keputusan dengan menghitung resiko terkecil dari yang terburuk. Tanpa matematika seorang dokter akan kesulitan dalam pengambilan keputusan. Contoh-contoh di atas sengaja mungkin tidak berhubungan langsung dengan matematika yang dipelajari saat sekolah, tapi manfaat dari belajar matematika bisa membuat mereka seperti itu. Belajar matematika melatih penalaran kita untuk bisa menghadapi masalah dan keluar jadi pemenang.
Oleh karena itu, jika saat ini nilai matematika siswa jelek bukan berarti siswa tersebut tak berbakat di bidang matematika. Bisa saja siswa tersebut belum menemukan cara mempelajari matematika yang mengasyikkan. Anak dianggap bodoh kalau nilai matematika jelek adalah pandangan yang keliru. Untuk itu ada dua hal yang sebaiknya dilakukan. Pertama: Mulailah merasakan bidang apa yang sesungguhnya kalian minati. Begitu ketemu, tekunilah bidang yang kalian minati itu. Kedua: Cobalah untuk menemukan keasyikan mempelajari matematika. Kalau perlu, cari orang yang bisa membimbing kalian mempelajari matematika dengan cara-cara menyenangkan. Matematika membantu banyak hal dalam kehidupan ke depan. Selamat berpetualang dalam pencarian minat dan bakat, dan menemukan keasyikan dalam bermatematika.
Referensi :
Buku "Anak Bertanya Pakar Menjawab" karya : Prof Hendra Gunawan (Guru Besar ITB)
Sumber gambar :
https://www.redbubble.com/people/dominicwalliman/works/25095968-the-map-of-mathematics
Tidak ada komentar :
Posting Komentar