NOVATAMA NUGRAHA

Teacher and Learner ~ Teaching is travelling

PembaTIK Level 2 Tahun 2021

Tidak ada komentar

       PembaTIK merupakan akronim dari Pembelajaran Berbasis TIK, sebuah program peningkatan kompetensi TIK bagi guru dan tenaga kependidikan yang diselenggarakan oleh Pusdatin (dahulu Pustekkom) Kemendikbud sejak tahun 2017. PembaTIK tahun 2021 diselenggarakan dengan moda dalam jaringan (daring), mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang masih mengharuskan penerapan protokol kesehatan serta pembatasan fisik dan sosial. Metode peningkatan kompetensi yang digunakan adalah pembimbingan teknis (bimtek) yang dilakukan oleh tim narasumber/fasilitator kepada peserta PembaTIK. Bimtek PembaTIK dikembangkan menjadi empat level kompetensi, yakni: 1) Literasi, 2) Implementasi, 3) Kreasi, dan 4) Berbagi dan Berkolaborasi. PembaTIK 2021 mengambil tema berjudul “Berbagi dan Berkolaborasi Belajar Bersama Rumah Belajar”. Dengan rasional bahwa pembelajaran berbasis TIK di masa pandemi menunjukkan dinamika yang luar biasa dalam hal pemanfaatan teknologi untuk pendidikan. 

       PembaTIK level 2 (Implementasi TIK) dilaksanakan setelah proses level 1 (Literasi TIK) selesai. Peserta level 2 terdiri atas peserta yang lulus level 1 PembaTIK 2021 dan alumni peserta PembaTIK tahun 2020. Level 2 dilaksanakan secara bergelombang, dalam bentuk kelas-kelas daring. Pembelajaran level 2 dilakukan secara jarak jauh dan mandiri dengan cara mengunduh dan mempelajari modul yang disediakan di kelas daring, forum diskusi (asinkronous), sesi pembimbingan dan pendalaman materi (sinkronous), dan mengerjakan dan mengunggah tugas yang diberikan. Pembelajaran level 2 setara 32 jam pembelajaran. Kelulusan level 2 ditentukan berdasarkan nilai komposit (hasil ujian akhir level 2, penilaian tugas, dan nilai keaktifan pada forum diskusi/ pembimbingan/ pendalaman materi). Pembobotan nilainya yakni: tugas akhir (60%) dan ujian akhir (40%).

Video Tugas Akhir Level 2

Berikut merupakan modul bimtek PembaTIK level 2 Tahun 2021 

Modul 1 - Optimalisasi Pemanfaatan TIK untuk Pembelajaran Abad 21

Modul 2 - Penerapan Model Pembelajaran Memanfaatkan Rumah Belajar

Modul 3 - Pemanfaatan Media TV Edukasi, Radio Suara Edukasi dan M-Edukasi untuk Pembelajaran

Modul 4 - Pengelolaan Kelas yang Mengintegrasikan TIK dalam Lingkungan Belajar 

Modul 5 - Pembuatan Media Video Pembelajaran

Link download soal Ujian Akhir Level 2

       Pemilihan Duta Rumah Belajar adalah puncak dari proses PembaTIK yang di dalamnya terdapat program pemanfaatan portal Rumah Belajar. Pemilihan Duta Rumah Belajar menjadi semacam “bonus” bagi guru yang memiliki kompetensi TIK yang mumpuni serta potensial sebagai perpanjangan tangan fungsi Rumah Belajar di daerah masing-masing. Duta Rumah Belajar dalam tugasnya membantu Pusdatin khususnya portal Rumah Belajar dalam menyosialisasikan dan mendiseminasikan segala fitur yang ada di Rumah Belajar kepada rekan sesama guru yang ada di daerahnya maupun ke dalam komunitas guru tersebut. Peserta yang mengikuti pemilihan Duta Rumah Belajar (DRB) adalah 5 orang peserta terbaik level 4 dari setiap provinsi. 

Referensi :

Buku “Pedoman Penyelenggaraan Pembatik & Pemilihan Duta Rumah Belajar 2021” oleh PUSDATIN KEMDIKBUD

Menulis Perlu Pembiasaan

4 komentar
        Menulis itu sebenarnya tidak sulit. Yang penting kita mau mencoba menulis, dimulai dari hal-hal yang sederhana. Bisa kita mulai dengan hal-hal yang kita sukai. Kumpulkan ingatan kita, selama ini adakah hal yang kita sukai? Kita bisa memulai tulisan dari apa yang kita lihat, kita dengar, dan apa yang kita sukai. Jangan berpikir, menulis itu sulit. Cobalah dahulu.. karena dengan mencoba, kita akan tahu kemampuan kita. Jika kita rutin menulis, maka kita akan terbiasa. Perlu pembiasaan dan perlu kesabaran dalam menulis. Jadi semangatt terus, pasti bisa!

Selanjutnya, kita akan belajar menulis bersama dengan tema "bunga melati". Satu gambar bisa jadi beragam tulisan. Dari satu foto, mengalir begitu banyak ide tulisan dengan genre tulisan yang berbeda-beda. Sangat menginspirasi.. Berikut hasil tulisan yang sudah jadi :

Bunga Melati 
Oleh : Chiara (Peserta Penulis Surabaya)

Bunga melati sangatlah indah, warnanya yang putih dan bau semerbaknya membuat orang - orang yang melewati rumahku menjadi terpana 

Bunga melati selalu ada di sekitaran rumahku,, bunga melati sudah aku anggap sebagai temanku sendiri. mengkoleksi bunga melati adalah hobi dari eyangku.. 

Eyangku sangat suka sekali bercerita tentang bagaimana caranya menghasilkan dan merawat bunga melati yang sangat indah.. 
Itu dia sebuah cerita singkat dari saya tentang bunga melati.. 

------------------------------------------------------
Bunga Melati
oleh : Altalitha (Peserta Penulis Surabaya)

Pucuk yang tidak terlalu tajam dan bentuk yang sangat indah. Tak hanya indah dibagian luar saja tetapi juga dibagian dalam. Bunga melati yang memiliki banyak manfaat untuk sekitarnya, tidak hanya bagi manusia tetapi bagi hewan juga. 

Indah dan menawan warna bunga melati. Putih bersih dan suci yang menyejukkan hati. Sejuk rasanya jika melihat bunga melati yang habis disiram oleh air

Dirumah ku terdapat bunga melati yang bentuk nya kecil-kecil, namun tetap indah. Kami sekeluarga sangat suka mempotret dan menyimpan didokumen. Singkat cerita tentang pengalamanku dan bunga melati. 

--------------------------------------------------------
Bunga Melati
Oleh : Nasywa (Peserta Penulis Surabaya)

Bunga melati sangat indah. Bunga melati biasanya untuk menghiasi taman dll. Bunga melati biasanya berukuran 2cm dan berwarna putih. Mahkota bunganya berbentuk lembaran mengerut.

Kalian tau tidak kalau bunga melati bisa dibuat untuk teh? yaitu teh melati. Teh melati memiliki wangi yang khas dan memiliki banyak manfaat, seperti melindungi kekebalan tubuh, meredakan stress dll. Menurutku teh melati enak diminum saat hangat hehe..

Di Indonesia, melati dipilih menjadi "puspa bangsa" atau bunga simbol nasional yaitu melati putih, karena bunga ini melambangkan kesucian dan kemurnian, melati juga dikaitkan dengan berbagai tradisi dari banyak suku di negara ini.

--------------------------------------------------------
Bunga Melati 
Oleh : Kak Novatama

Bunga melati bukan sekadar bunga pada umumnya. Bunga ini sering kita jumpai di halaman rumah kita. Bunga melati identik dengan warnanya yang putih  dan harum. Bunga ini juga memiliki wangi semerbak dan bentuk yang unik. Semua orang bisa memegang karena bunga ini tidak berduri.

Bunga melati adalah bunga yang istimewa. Meski bunga ini tidak berwarna warni. Banyak orang yang jatuh cinta. Bunga ini menggambarkan kesucian serta keanggunan. Seringkali bunga ini dianggap sebagai lambang cinta serta kasih sayang. 

Bunga melati adalah bunga yang tak tergantikan. Meski banyak bunga lain yang lebih indah. Semua orang tetap akan mencari bunga melati. Bunga ini seakan diciptakan agar semua orang mengaguminya. Sungguh indah bunga ini. 


Kegiatan Belajar Menulis dalam Komunitas Penulis Surabaya

Menulis Semudah Ceplok Telur

12 komentar

       Menulis itu sangat mudah. Semudah kita membuat ceplok telur. Tuk Byaarr… telur yang tadinya bulat, bisa langsung dihidangkan di meja makan. Tanpa harus ribet memasaknya. Jangan pernah berpikir tulisan kita jelek atau lainnya, hal inilah yang akan membuat kita tidak bisa menulis. Jika pikiran buntu tetap saja menulis. Tulis apa saja. Tulis..tulis dan tulis. Nanti kesempurnaan akan mengikuti. Menulis itu bekerja untuk keabadian. “Jika kau bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah” – Imam Ghozali.  Itulah salah satu quote yang menarik dan patut kita renungkan, khusususnya yang bercita-cita jadi penulis. Kalau kita ingin dikenal dan dikenang oleh orang banyak maka hal yang paling tepat adalah dengan meninggalkan karya, salah satunya berupa tulisan atau buku. Atau sekadar untuk catatan pribadi semacam blog atau lainnya. 

       Mengapa kita harus menulis? Apakah menulis itu penting untuk kita? Jawabannya, iya. Landasan mengapa kita harus menulis menurut Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekalipun di tembok”. Imam Syafi’i juga pernah bertutur, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja”. Disini, ilmu diibaratkan seperti hewan buruan apabila tidak diikat akan terlepas, begitu pula ilmu apabila tidak ditulis maka akan hilang atau tidak ingat dikarenakan daya manusia yang terbatas. Sebagai umat islam, kita perlu membiasakan diri untuk belajar menulis. Karena sahabat Rasulullah SAW juga menuliskan Al-Qur’an dan Al-Hadits kemudian dibukukan. Seandainya saja Khalifah Utsman bin Affan tidak mengumpulkan para penghafal Al-Qur’an untuk berkumpul dan menulis Al-Qur’an sampai adanya mushaf Al-Qur’an yang sekarang ini. Coba bayangkan kalau Al-Qu’an tidak pernah ditulis, bisa saja hilang ditelan masa dan akan terjadi distorsi dalam kitab suci umat islam ini. Atas dasar itulah menuliskan ilmu yang kita dapatkan itu sangat penting sekali.

      Salah satu cara menjadi penulis hebat adalah dengan bergabung dalam komunitas menulis. Dalam komunitas tersebut, kita akan mendapatkan banyak teman yang sama-sama hobi menulis dan saling memberikan inspirasi serta motivasi. Ada kutipan yang sangat menarik, “Tebarkan manfaat di setiap helaan nafas meski hanya dari sebuah tulisan”. Menulis tak akan berdampak apa-apa jika tidak memiliki komitmen dalam diri untuk berlatih menulis setiap hari. Menulis yang paling mudah yakni menulis pengalaman sendiri. Menurut JK Rowling, “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”. Oleh karena itu, mari menulis karena menulis semudah ceplok telur. 

Salam Literasi,

Novatama Adi Nugraha


Referensi :

Seminar Menulis bersama Rumah Produktif Indonesia (RPI) NTT

Pemateri : Bunda Lilis Sutikno (Guru Inspirasi NTT)

Sumber gambar :

https://nasihatsahabat.com/ikatlah-ilmu-dengan-cara-menulisnya/

Kelas "Belajar Menulis Buku ber-ISBN"

5 komentar

         Menulis adalah bekerja untuk keabadian. “Teruslah menulis, teruslah membaca, dan teruslah berkarya” (Bunda Lilis Sutikno, Guru Inspirasi NTT). Alhamdulillah, Allah SWT menghadiahkan 1 buah buku antologi bersama guru-guru inspirasi dari pelosok negeri. Buku ini sangat luar biasa, dimana dalam karya buku ini ada 3 (tiga) Profesor yang mendukung terbitnya buku ini, yakni sebagai berikut : 

  • Penulis Kata Pengantar : Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. (Sekretaris Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud)
  • Penulis Kata Sambutan Buku : Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, MSME (Guru Besar Universitas Sumatra Utara)
  • Penulis Endorsment Buku : Prof. Pujiati, M.Soc, Sc., Ph.D (Guru Besar Universitas Sumatra Utara

Sinopsis Buku “Kisah WIT 2020 - Memberi Inspirasi Untuk Negeri”

        “Musuh terbesar ilmu adalah ilusi bahwa kita berilmu” (Dewi Sandra, Brand Ambassador Wardah), merupakan kalimat yang memotivasi para guru hebat penulis buku ini untuk terus mengembangkan diri dan berinovasi. Mereka sadar bahwa guru yang dapat digugu dan ditiru adala guru yang tidak pernah berhenti untuk belajar. 

        Buku ini sangat istimewa karena memuat berbagai ilmu juga pengalaman dan karya nyata para penulisnya ketika mengikuti program “Wardah Inspiring Teacher 2020” yang diselenggarakan oleh PT Paragon Technology and Innovation.  Ilmu, pengalaman dan karya yang mereka tuangkan di dalam buku ini sangat sempurna, sehingga layaklah mereka disebut guru inspiratif. Hal ini sangat relevan dengan tuntutan pendidikan di negara kita saat ini. Karena hanya dengan berada pada posisi sebagai inspiratorlah, seorang guru akan mampu membangun inovasi, kemandirian, dan pengembangan kreativitas setiap peserta didiknya. 

        Apa saja ilmu, pengalaman, dan karya nyata para guru inspiratif tersebut? Segera baca buku ini sampai tuntas, maka Anda akan mendapatkan banyak inspirasi yang akan menggugah dan mendorong Anda untuk tetap semangat dalam belajar dan mengajar. 

link preview buku

  • Buku Antologi "Kisah WIT 2020 ”
  • ISBN      : 978-602-457-762-9
  • Tebal      : ± 225 hal
  • Penerbit : Oase Pustaka 
  • Cetakan Pertama : Maret 2021

Mengenal Matematika Lebih Dekat

Tidak ada komentar

       Matematika itu sulit! Matematika itu tidak penting! Demikianlah pendapat yang sering kita dengar dari siswa terhadap matematika. Sebagian besar siswa menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan. Karena dianggap sulit, matematika sudah menjadi hantu di kelas-kelas bahkan sebelum pelajaran pertama dimulai. Ada candaan kalau MATEMATIKA itu MAkin TEkun MAkin TIdak KAruan pusingnya. Beberapa pendapat di atas adalah persepsi yang salah. Bukankah 1 + 1 = 2 selamanya? Mudah bukan, dimana letak sulitnya.  Pelajaran sekolah dasar akan sangat mudah jika dikerjakan oleh siswa sekolah menengah pertama atau atas. Ketika siswa sudah menemukan keasyikan belajar matematika, maka matematika menjadi pelajaran yang mudah. 

     Matematika merupakan himpunan pengetahuan dan temuan manusia, yang diperoleh dengan metode yang solid, disepakati oleh para pakar dalam bidangnya masing-masing dan telah banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika sekarang berkembang sebagai ilmu atau sistem pengetahuan. Berawal dari geometri dan aritmetika, cabang-cabang matematika lainnya, seperti aljabar, kalkulus, dan statistika pun lahir. Matematika disebut ratunya ilmu pengetahuan (The Queen of Science), karena matematika menjadi pembuka jalan untuk banyak penemuan dalam bidang lainnya. 

       Mengingat betapa pentingnya matematika, karena semua bidang membutuhkan matematika dalam penyelesainnya. Matematika banyak digunakan dalam berbagai bidang disiplin lain, misalnya fisika, kimia, biologi, teknik, komputer, industri, ekonomi, kedokteran, dan pertanian. Untuk itulah mengapa matematika diajarkan sejak awal kita sekolah. Untuk tingkat taman kanak-kanak, siswa diajarkan mengenal bilangan yang sangat dasar yaitu, bilangan asli, dan belajar mengurutkan bilangan tersebut. Ini bertujuan agar di sekolah dasar siswa bisa menghitung bilangan tersebut. Untuk tingkat sekolah dasar, siswa diharapkan bisa menghitung dengan berbagai macam operasi bilangan seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Lalu siswa dikenalkan dengan soal cerita sederhana dan membuatnya ke dalam kalimat matematika kemudian menyelesaikannya. Ini bertujuan untuk melatih nalar kita dalam menghadapi masalah sehari-hari, seperti menghitung kembalian saat kita jajan di sekolah atau di rumah. Saat di sekolah menengah pertama dan atas, siswa dikenalkan dengan matematika yang cukup kompleks dan diharapkan bisa mencari solusi dari permasalahan tersebut.  Apakah kita sudah melalui proses bermatematika dengan benar? Jika benar, kita bisa mengikuti setiap materi yang kita terima dengan baik. Jika tidak, kita selalu kesulitan dengan pelajaran ini dan bertanya kenapa kita harus belajar materi yang sulit ini?

      Belajar matematika itu seperti bermain game. Dalam game pastilah terdapat aturan-aturan yang harus diikuti, begitu pula matematika memiliki aturan-aturan dasar yang disebut aksioma. Bermain game tentunya menyenangkan dan penuh dengan tantangan. Semakin tinggi levelnya, semakin sulit permainannya. Begitu pula dengan matematika, soal matematika tingkat SMA akan lebih sulit dibandingkan dengan soal matematika tingkat SMP atau SD. Kita merasa puas jika mampu menyelesaikan suatu game, begitu pula dengan mengerjakan soal matematika. Ada kepuasan jika kita mampu mengerjakan soal matematika. Apalagi jika soal tersebut susah, pasti kepuasan akan berlipat ganda. 

       Tahukah kita kenapa seorang penulis bisa menulis buku yang sukses? Atau seseorang bisa menjadi pengacara yang sukses? Atau seorang dokter yang bisa menyembuhkan pasien yang sakit? Ketiga profesi tersebut mungkin tidak membutuhkan matematika saat di bangku kuliah, tapi apakah matematika jadi tidak penting bagi mereka? Kalau kita telurusi lebih jauh, sebenarnya mereka menggunakan konsep bermatematika yang benar. Seorang penulis bisa menyusun sebuah kata-kata dan kalimat-kalimat menjadi tulisan yang bagus itu membutuhkan strategi; begitu juga seorang pengacara bisa memenangkan sebuah kasus hukum yang dia tangani membutuhkan strategi. Strategi tersebut mereka peroleh dari penalaran saat mereka mencoba menyelesaikan masalah dalam belajar matematika.  Begitu juga ketika seorang dokter dihadapkan pada pasien yang sekarat dan membutuhkan pertolongan secepatnya, matematika akan menuntun dokter tersebut mengambil keputusan dengan menghitung resiko terkecil dari yang terburuk. Tanpa matematika seorang dokter akan kesulitan dalam pengambilan keputusan. Contoh-contoh di atas sengaja mungkin tidak berhubungan langsung dengan matematika yang dipelajari saat sekolah, tapi manfaat dari belajar matematika bisa membuat mereka seperti itu. Belajar matematika melatih penalaran kita untuk bisa menghadapi masalah dan keluar jadi pemenang. 

       Oleh karena itu, jika saat ini nilai matematika siswa jelek bukan berarti siswa tersebut tak berbakat di bidang matematika. Bisa saja siswa tersebut belum menemukan cara mempelajari matematika yang mengasyikkan. Anak dianggap bodoh kalau nilai matematika jelek adalah pandangan yang keliru. Untuk itu ada dua hal yang sebaiknya dilakukan. Pertama: Mulailah merasakan bidang apa yang sesungguhnya kalian minati. Begitu ketemu, tekunilah bidang yang kalian minati itu. Kedua: Cobalah untuk menemukan keasyikan mempelajari matematika. Kalau perlu, cari orang yang bisa membimbing kalian mempelajari matematika dengan cara-cara menyenangkan. Matematika membantu banyak hal dalam kehidupan ke depan. Selamat berpetualang dalam pencarian minat dan bakat, dan menemukan keasyikan dalam bermatematika.


Referensi :

Buku "Anak Bertanya Pakar Menjawab" karya : Prof Hendra Gunawan (Guru Besar ITB)

Sumber gambar :

https://www.redbubble.com/people/dominicwalliman/works/25095968-the-map-of-mathematics 

Matematika dan Strategi Perang Rasulullah

Tidak ada komentar

           Matematika itu sesungguhnya disebut juga ilmu islam. Matematika tak terpisahkan dari ilmu-ilmu syariat yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadis. Misalnya, menghitung waris itu pakai ilmu matematika, ilmu falak untuk mengetahui kalender hijriah yang terkait dengan ibadah sholat dan puasa, pembagian zakat juga menggunakan ilmu matematika. Bahkan, salah satu faktor kemenangan Rasulullah Saw. dalam Perang Badar juga karena ketepatan Rasulullah Saw dalam menggunakan ilmu matematika. Menurut Sun Tzu dalam karya fenomenalnya The Art of War, salah satu faktor penting meraih kemenangan dalam sebuah peperangan adalah mengetahui kekuatan diri sendiri dan mengetahui kekuatan lawan.

Menjawab Pertanyaan yang Belum Terjawab

Tidak ada komentar

          Mungkin ini adalah pertemuan sakral yang dialami Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, M.Sc (ahli sufi, ahli fisika, dan pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Panca Budi, Medan) dengan Presiden RI pertama (Ir. Soekarno). Saat itu, dia bersama rombongan diterima di beranda Istana Merdeka (sekitar Juli 1965) bersama Prof. Ir. Brojonegoro, Prof. Dr. Syarif Thayib, Suprayogi, Admiral John Lie, Sucipto Besar, Kapolri, dan Duta Besar Indonesia.

          “Wah, pagi-pagi begini saya sudah dikepung oleh 3 profesor,” kelakar Ir. Soekarno membuka dialog ketika menemui Prof. Kadirun Yahya beserta rombongan. Presiden Soekarno kemudian mempersilahkan rombongan tamunya untuk duduk. 

          “Profesor Kadirun Yahya, silahkan duduk dekat saya,” pinta Presiden Soekarno kepada Prof. Kadirun Yahya, terkesan khusus. 

          “Profesor, saya dengar tentang engkau sudah sejak 4 tahun, tetapi baru sekarang aku bertemu dengan engkau, sebenarnya ada sesuatu yang akan aku tanyakan kepadamu,” kata Presiden Soekarno. 

“Ya, tentang apa itu, Bapak Presiden?”

“Tentang suatu hal yang sudah kira-kira 10 tahun, saya cari-cari jawabannya, tetapi belum ketemu jawaban yang memuaskan. Saya sudah bertanya kepada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu. Tetapi, semua jawabannya tetap tidak memuaskan saya.” 

        “Lantas, soalnya apa, Bapak Presiden?”

“Saya bertanya terlebih dahulu tentang yang lain, sebelum saya ajukan pertanyaan yang sebenarnya,” jawab Presiden Soekarno.

        “Baik, Presiden,” kata Prof. Kadirun Yahya.

        “Manakah yang lebih tinggi? Presiden, jenderal, atau professor dibanding dengan surga?” tanya Presiden.

        “Surga,” jawab Prof. Kadirun Yahya.

        “Accord (setuju)! Balas Presiden terlihat lega.

        Presiden bertanya untuk soal berikutnya. “Lantas, manakah yang lebih banyak dan lebih lama pengorbanannya antara pangkat dunia yang tadi dibanding pangkat surga?’ tanyanya. 

“Untuk presiden, jendral, dan professor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan mengabdi pada negara, nusa, dan bangsa, atau pada ilmu pengetahuan. Sedangkan, untuk mendapatkan surga harus berkorban segala-galanya untuk Allah. Berpuluh-puluh tahun terus-menerus, bahkan menurut agama Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup dan berabdi, baru barangkali dapat masuk nirwana,” jawab Prof. Kadirun.

Accord (setuju)!” kata Bung Karno.

“Sekarang baru dapat kutangkap engkau, Profesor),” lanjut Bung Karno. Tampak mukanya cerah berseri dengan senyumnya yang khas. Kelihatannya Bung Karno belum ingin cepat-cepat bertanya untuk yang pokok masalah. 

        “Saya cerita sedikit dahulu,” kata Bung Karno.

“Silahkan, Bapak Presiden.”

“Saya telah melihat teman-teman saya meninggal dunia lebih dahulu dari saya, dan hampir semuanya matinya jelek karena banyak dosa rupanya. Saya pun banyak dosa dan saya takut mati jelek. Maka, saya selidiki Al-Qur’an dan Al-Hadis, bagaimana caranya supaya dengan mudah hapus dosa saya dan dapat ampunan dan bisa mati tersenyum.

Lantas, saya ketemu dengan satu hadis yang bagi saya berharga. Bunyinya kira-kira sebagai berikut, Rasulullah berkata, “Seorang wanita penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing kehausan. Wanita tadi mengambil gayung yang berisikan air dan memberi minum anjing yang kehausan itu.” Rasul lewat dan berkata, “Hai para sahabatku. Lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, hapus dosa wanita itu dunia dan akhirat. Dia ahli surga.”

Nah, Profesor, tadi engkau katakana bahwa untuk mendapatkan surga harus berkorban segala-galanya, berpuluh-puluh tahun untuk Allah baru dapat masuk surga. Itu pun barangkali. Sementara itu, sekarang seorang wanita yang berdosa dengan sedikit saja jasa, itu pun pada seekor anjing pula, dihapuskan Tuhan dosanya dan dia ahli surga. How do you explain it, Profesor?” tanya Bung Karno lebih lanjut.

Profesor Kadirun Yahya terlihat tidak langsung menjawab. Dia hening sejenak. Lantas berdiri dan meminta kertas.

“Presiden, tadi bapak katakana dalam 1 tahun tak ketemu jawabannya, cob akita lihat. Mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam dua menit saja saya coba memberikan jawabannya dan memuaskan.” 

Keduanya adalah sama-sama ahli bidang eksakta, Bung Karno adalah seorang insinyur dan Profesor Kadirun Yahya adalah ahli kimia/ fisika. 

Di atas kertas, Prof. Kadirun mulai menuliskan jawabannya. 

“ 10/10 = 1”; “Ya,” kata Presiden.

“ 10/100 = 1/10”; “Ya,” kata Presiden.

“ 10/1.000 = 1/100”; “Ya,” kata Presiden.

“ 10/10.000 = 1/1.000”; “Ya,” kata Presiden.

“ 10/∞ = 0”; “Ya,” kata Presiden.

“ 1.000.000/∞ = 0”; “Ya,” kata Presiden.

“ (berapa saja + apa saja)/∞ = 0”; “Ya,” kata Presiden.

“ dosa/∞ = 0”; “Ya,” kata Presiden.

“ Nah, …,” lanjut Prof, “ 1 × ∞ = ∞ “; “Ya,” kata Presiden.

“ 1/2 × ∞ = ∞” ; “Ya,” kata Presiden.

“ 1 zarah × ∞ = ∞” ; “Ya,” kata Presiden.

“Ini artinya, sang wanita, walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, mengaitkan, menggandengkan gerakannya dengan Yang Maha-Akbar. Mengikutsertakan Yang Mahabesar dalam gerakan-geraknnya. Maka, hasil dari gerakannya itu menghasilkan ibadah yang begitu besar, yang langsung dihadapkan pada dosa-dosanya, yang pada saat itu juga hancur berkeping-keping, ditorpedo oleh pahala yang Mahabesar itu. 1 zarah × ∞ = ∞ dan dosa : ∞ = 0. 

“Itulah dia jawabannya, Presiden!” jawab Profesor.

Bung Karno diam sejenak. “Hebat,” katanya kemudian. Bung Karno puas dengan penjelasan dari Profesor Kadirun Yahya. 

REFERENSI :

Sudarmojo, Agus Haryo. 2017. Nur Muhammad – Penyebab Terciptanya Alam Semesta. Yogyakarta: Mizan 

REFERENSI GAMBAR:

www.fau2i.blogspot.com